Empat Pembunuh Bayaran Dimas Kanjeng Masih Buron

Surabaya – Berkas berita acara pemeriksaan (BAP) empat tersangka pembunuhan yang direncanakan atas korban Abdul Ghani yang dilimpahkan dari Polda Jatim ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, akhirnya diteruskan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo di Kraksaan, Kamis (29/9) tadi malam. BAP itu semula ‘ditolak’ Kejari Surabaya karena, selain tempat terjadinya kasus (locus delicti) pembunuhan berada di Kabupaten Probolinggo, juga keempat tersangka yang masing-masing Wahyu Wijaya (50) warga Surabaya; Wahyudi Wijayanto (60) warga Salatiga; Ahmad Suryono (54) warga Jombang dan Kurniadi (50) warga Lombok, dua orang di antaranya sudah ditetapkan terlebih dahulu sebagai tersangka oleh Kejari Kabupaten Probolinggo. “Jadi kita tidak bisa menetapkan tersangka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka sebelumnya oleh Kejari Probolinggo. Karenanya ketika hendak dikirim ke kami (Kejari Surabaya), terpaksa kita tolak dengan alasan yang lebih efisien dan rasional,” ujar Kepala Kejari (Kajari) Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi, yang dihubungi Kamis tadi malam. ‘Penolakan’ tersebut bukan karena hal lain, namun semata-mata agar penanganan perkaranya efektif dan efisien serta aman. Menurut dia, apabila penanganan kasusnya dipaksakan ditangani Kejari Surabaya dan perkaranya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, maka setiap sepekan sekali persidangan, tersangka harus diantar-jemput dari dan ke Probolinggo-Surabaya menggunakan mobil tahanan. Selain dinilai tidak efisien dan banyak risiko di jalan, maka dengan berbagai pertimbangan, akhirnya BAP beserta keempat tersangka dikirim Kejari Surabaya ke Kejari Probolinggo untuk ditangani sebagaimana mestinya, tandas Didik. Sebagaimana terjadi, Kejati Jatim sebelumnya menerima pelimpahan BAP dan empat tersangka serta barang bukti kasus pembunuhan Abdul Ghani selaku Ketua Yayasan (Padepokan) Kanjeng Dimas, di Probolinggo oleh penyidik Subdit III Unit Jatanras Polda Jatim, Kamis siang. Namun oleh Kejati yang diwakili Jaksa Penuntut Umum (JPU) Djuwariyah, usai memeriksa secara administratif para tersangka segera melimpahkan perkaranya ke Kejari Kabupaten Probolinggo di Kraksaan. Kasi Penkum Kejati Jatim ,Romy Arizyanto yang dikonfimasi sebelumnya menyatakan ada empat tersangka yang diserahkan penyidik ke pihaknya. Empat tersangka sudah menjalani pemeriksaan secara administratif yang selanjutnya akan diserahkan ke Kejari Kraksaan hari itu juga. “Nanti yang menyidangkan Kejari Kraksaan,” ujar Romy. Sesuai isi BAP, empat tersangka pembunuhan yang direncanakan terhadap korban Abdul Ghani, Ketua Yayasan (Padepokan) Dimas Kanjeng itu antara lain Wahyudi Wijayanto, mantan Anggota Kopassus berpangkat Letnan Kolonel (Letkol). Dia menjadi otak perencana dan eksekutor pembunuhan yang mayatnya dibuang di bawah jembatan dekat Waduk Gajahmungkur, Wonogiri, Jateng. Dalam pembunuhan tersebut, Abdul Gani dieksekusi di ruangan‎ pelindung (pengawal/centeng) Dimas Kanjeng Taat Pribadi (49) karena dianggap membahayakan keberadaan aktivitas padepokan dalam praktik penipuan berkedok penggandaan uang secara gaib. Korban dieksekusi di dalam padepokan dengan cara dijerat menggunakan tali dan dihantam pakai batu serta muka disekap plastik. Sementara peran Wahyu Wijaya bertugas melakban mulut dan leher korban. Terdapat pula Letkol (Purn) TNI Wahyudi (pensiunan dini) dan Ahmad Suryono yang juga mantan Anggota Kopassus dengan pangkat terakhir Kapten yang telah dipecat atau Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) karena melakukan pelanggaran berat. Selain ketiganya, juga terdapat seorang Perwira Menengah (Pamen) aktif dari unsur TNI AU berinisial RD, yang kini perkara yang menjeratnya diserahkan ke pimpinan kesatuannya (Denpom ) guna menjalani proses hukum. Sedang tersangka lainnya bernama Kurniadi yang oleh tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi selaku aktor intelektual kasus tersebut merupakan koordinator pencari korban pemasang mahar yang disebut sebagai ‘Sultan’ di Padepokan Dimas Kanjeng. Kasubdit III‎ Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Taufik Herdiyansyah sebelumnya saat pelimpahan BAP mengatakan, pihaknya masih memburu empat orang lainnya yang masih buron, yang memiliki peran sama dengan empat tersangka. Modus operandi pembunuhan adalah, tersangka menghubungi korban agar datang ke Padepokan dengan diiming-imingi akan diberikan pinjaman uang sebesar Rp 230 juta. Saat korban datang ke Padepokan langsung dimasukan di ruang centeng Dimas Kanjeng dan langsung dihabisi dan kemudian mayatnya dibuang ke Wonogiri dengan menggunakan dua mobil. “Dalam melakukan eksekusi korban, para tersangka mendapat imbalan dari Dimas Kanjeng uang sebesar Rp 290 juta,” ujar AKBP Taufik sambil menambahkan, karena BAP sudah lengkap (P21) maka hari itu dilimpahkan ke Kejati Jatim. Aries Sudiono/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu