Polri Diminta Berhati-hati Usut Kasus Makar

Jakarta – Polri diminta tidak sembarangan mengusut kasus makar, apalagi langsung melakukan upaya penangkapan disertai penahanan terhadap tersangka. Langkah hati-hati Polri penting karena ‎makar tidak berdiri sendiri melainkan unsur dari tindak pidana. Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Miko Susanto Ginting menyebut, makar merupakan istilah dalam bahasa Belanda anslaag yang artinya serangan berat. Dengan begitu unsur serangan berat yang dilakukan tersangka makar harus bisa dibuktikan. “Apabila tidak ada serangan yang berat, maka tuduhan makar tidak terpenuhi. Kepolisian sebaiknya cermat dan hati-hati dalam menerapkan tuduhan ini agar penegakan hukum berjalan tepat pada relnya,” kata Miko, di Jakarta, Senin (5/12). Polri melakukan penangkapan terhadap 11 orang atas tuduhan makar, penghinaan terhadap kepala negara dan pelanggaran UU ITE di sejumlah tempat sebelum aksi 212 di Monas digelar. 11 orang tersebut terdiri dari dua jenderal purnawirawan yakni Kivlan Zen dan Adityawarman Taha. Kemudian tokoh aktivis seperti Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas serta Ratna Sarumpaet. Cawabup Bekasi Ahmad Dhani, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, serta warga sipil Jamran dan Rizal Kobar ikut ditangkap. Dari 11 tersangka yang ditangkap, hanya Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar yang ditahan di Polda Metro Jaya. Miko meminta polisi tidak ragu untuk membebaskan seluruh tersangka jika tidak diketemukan bukti-bukti yang kuat. “‎Oleh karena itu, unsur utama dari tuduhan makar adalah apakah ada serangan yang berat,” katanya. Sedangkan Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo menilai, terbukti atau tidaknya 11 tersangka melakukan makar dengan pemufakatan jahat membelokan aksi 212 ke gedung MPR/DPR untuk menuntut sidang istimewa mencabut mandat Presiden Jokowi harus melalui putusan pengadilan. Menurut Bambang, langkah Polri menangkap 11 tersangka makar berkaitan dengan langkah memulihkan situasi agar kondusif. Setidaknya, potensi ancaman makar berhasil dilumpuhkan yang sekaligus diharapkan dapat menghilangkan rasa saling curiga. ‎”Apakah sangkaan Polri terhadap sejumlah orang yang merencanakan makar itu benar adanya ? Biarlah pengadilan yang mengonfirmasikannya. Polri telah mempertaruhkan reputasi dan kredibilitasnya. Tentu saja Polri tidak asal melangkah atau bertindak,” kata Bambang. Erwin C Sihombing/YUD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu